Hotspotsultra.com - Dalam menyikapi polemik BBM yang menjadi persoalan di tengah masyarakat Khsusnya di kota kendari, seorang pemimpin hendaknya mampu menempatkan diri secara bijaksana. Kritik dan aspirasi masyarakat seharusnya dipandang sebagai bagian dari dinamika demokrasi, bukan semata-mata sebagai bentuk perlawanan atau sesuatu yang harus dibenarkan maupun disalahkan secara sepihak.
Kepada Bapak Pemimpin atau yang sedang mengurusi BBM di Kota Kendari, perlu kiranya kita mengingat bahwa menjadi pemimpin bukan hanya tentang memiliki kewenangan, tetapi juga tentang kemampuan mendengar, memahami, jeritan rakyat dan melihat persoalan dari berbagai sudut pandang.
Jangan membenarkan satu pandangan hanya karena kita berdiri di posisi teratas. Sebab, apa yang terlihat benar dari sudut pandang kita, belum tentu sepenuhnya benar ketika dilihat dari sisi masyarakat. Begitu pula sebaliknya, setiap kritik perlu diuji berdasarkan fakta, bukan sekadar emosi, kepentingan, ataupun penilaian pribadi.
Pemimpin yang bijaksana tidak menjadikan jabatan sebagai alasan untuk merasa paling benar. Justru kebesaran seorang pemimpin terlihat ketika ia mampu menerima kritik tanpa kehilangan wibawa, mendengarkan keluhan tanpa merasa direndahkan, serta mencari jalan keluar tanpa memperkeruh keadaan.
Jangan sampai kita terlalu mudah melihat kekurangan orang lain, tetapi lupa bahwa diri kita sendiri juga bisa dinilai kurang baik oleh orang lain. Kehidupan selalu berputar. Hari ini kita berada dalam posisi yang nyaman, esok belum tentu keadaan tetap sama.
Jangan sampai kita senang melihat orang lain susah dan susah melihat orang lain senang. Sebab, tidak ada manusia yang selamanya berada di atas. Bisa saja suatu hari nanti, kita atau keluarga kita berada dalam keadaan sulit dan membutuhkan pengertian dari orang lain. Pada saat itulah kita akan memahami betapa berharganya empati dan kebijaksanaan.
Inilah makna tabur tuai: setiap sikap dan tindakan memiliki konsekuensi. Karena itu, tanamlah penghormatan jika ingin dihormati, tebarkan empati jika ingin dimengerti, dan berikan keteladanan jika ingin mendapatkan kepercayaan masyarakat.
Perlu diingat, masyarakat bukan sekadar pihak yang harus mendengar penjelasan pemimpin. Masyarakat juga memiliki hak untuk menyampaikan pendapat, mempertanyakan persoalan publik, serta mengharapkan solusi yang adil dan berdasarkan fakta.
Jika terdapat persoalan terkait BBM, mungkin bisa kedepankan keterbukaan, klarifikasi, dan dialog yang sehat. Dengarkan apa yang menjadi keberatan masyarakat, jelaskan duduk persoalannya secara proporsional, kemudian cari solusi yang tidak merugikan kepentingan publik. Sebab, tujuan kepemimpinan bukan memenangkan perdebatan, melainkan menyelesaikan persoalan.
Pada akhirnya, jabatan memiliki batas waktu, tetapi jejak kepemimpinan akan terus diingat melalui sikap, keputusan, dan cara memperlakukan masyarakat.
Setiap masa ada orangnya, setiap orang ada masanya.
Jangan merasa akan selalu berada di atas, dan jangan pula memandang rendah mereka yang hari ini berada di bawah. Sebab, waktu dapat mengubah keadaan, tetapi kebijaksanaan dan kerendahan hati akan selalu menjadi nilai yang dihormati.
Semoga setiap pemimpin senantiasa diberikan kebesaran hati untuk mendengar, kejernihan pikiran untuk menilai, serta keberanian untuk mengakui kekeliruan apabila memang terbukti keliru.
Pemimpin yang hebat bukanlah pemimpin yang selalu merasa benar, melainkan pemimpin yang berani mendengar, bersedia mengevaluasi diri, dan mampu menghadirkan keadilan bagi masyarakat.
Jabatan boleh membuat seseorang didengar, tetapi kebijaksanaanlah yang membuatnya dihormati. Jangan sampai ketika berkuasa kita lupa cara menghargai sesama, sebab roda kehidupan terus berputar. Tabur tuai bukan sekadar ungkapan, melainkan pengingat bahwa setiap sikap akan meninggalkan jejak. Setiap masa ada orangnya, setiap orang ada masanya.
Oleh : Inodi



Tidak ada komentar